Program Bela Negara, Untuk Apa?

Beberapa hari yang lalu, Menteri Pertahanan Negara Ryamizard Ryacudu mengumumkan kebijakan baru pemerintah yang akan mewajibkan seluruh penduduk Indonesia untuk mengikuti program bela negara. Dalam program bela negara ini, partisipan akan tinggal selama sebulan di Resimen Induk Kodam dan akan diberikan materi bela negara seperti pemahaman empat pilar negara, sistem pertahanan semesta, dan pengenalan alutsista TNI. Tanggal 19 Oktober ini program ini akan melakukan pembentukan kader pertamanya dan ditargetkan tahun 2025 nanti, sudah ada 100 juta rakyat yang mengikuti program bela negara ini.

Bagi saya pribadi, Kebijakan Bela Negara dapat memberikan manfaat yang besar pada masyarakat. Ada banyak nilai-nilai dalam kemiliteran yang sangat relevan untuk pengembangan sumber daya manusia dan kehidupan pada umumnya. Dalam manajemen misalnya, nilai-nilai dalam kemiliteran mengajarkan pemimpin untuk berkomunikasi secara efektif, memberikan sense of purpose kepada bawahan, kemampuan pemecahan masalah dan memotivasi bawahan. Hal ini tentu saja akan menjadi penanaman nilai yang baik pada orang-orang yang memimpin orang lain sebagai bagian dari pekerjaannya. Kepada masyarakat luas, disiplin sebagai fokus pelatihan militer juga akan membentuk karakter pekerja keras, teamwork, dan keteguhan dalam menghadapi situasi sulit yang sebenarnya relevan untuk hampir semua macam bidang. Saya sendiri pernah menjalani sedikit latihan militer sebagai persiapan KKN dan saya cukup menyukainya. Saya tak akan keberatan bila saya harus menjalani pelatihan militer ini dan bahkan mungkin akan mendaftarkan diri dengan sukarela.

Tapi tentu saja, manfaat dari suatu kebijakan bukanlah hal satu-satunya yang perlu dipikirkan untuk menimbang apakah suatu kebijakan baik untuk dilakukan atau tidak.

Kewajiban untuk menjalani pelatihan militer sebagai bagian dari kebijakan bela negara adalah hal yang sulit untuk saya setujui. Meskipun saya mengakui bahwa ada dampak positif yang bisa terjadi untuk partisipan Bela Negara ini, saya merasa bahwa bagian kebijakan yang mewajibkan seluruh warga negara untuk mengikuti bela negara ini juga akan menyakiti beberapa bagian masyarakat. Untuk beberapa bagian dari masyarakat, satu bulan pelatihan militer akan menjadi hal yang sangat berat dan bahkan mungkin menyiksa. Beberapa dari mereka mungkin memiliki keluarga di rumah yang tidak ingin mereka tinggalkan. Beberapa mungkin merasa bahwa pelatihan militer di Program Bela Negara ini terlalu berat. Memang Menhan telah berkata bahwa mereka tak akan terlalu membebankan latihan fisik, tapi sebagai orang yang pernah merasakan sedikit dari pelatihan militer bersama teman-teman saya, saya bisa memastikan bahwa baris berbaris sekalipun dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi beberapa orang, terlebih bila ditambahkan dengan tekanan psikis dalam bentuk komando dan teriakan dari para tentara. Banyak dari mereka mungkin merasa bahwa ada hal lebih penting yang perlu mereka lakukan dibandingkan tinggal di asrama militer dan menjalani program yang akan ‘menanamkan kecintaan’ untuk Indonesia. Kita harus mengakui bahwa akan ada bagian dari masyarakat yang tersakiti karena program ini dan ini bukanlah hal yang dapat kita sepelekan dengan mengecap ‘manja’ orang-orang yang sulit mengikuti program-program seperti ini. Hal yang menyakiti seseorang adalah persoalan subyektif yang berbeda dari satu orang ke orang lainnya dan mengabaikan ini adalah tindakan yang bodoh dan tak pantas.

Pelatihan Dasar Kepemimpinan oleh Kopassus

Oke, mungkin hidup nyaman tanpa adanya ‘ancaman’ panggilan ke program bela negara bukanlah hak absolut yang harus dijamin pemerintah, beberapa situasi memang membutuhkan kebijakan yang ‘menyakiti’ rakyat demi mencapai hal lain yang lebih penting. Kenaikan harga BBM misalnya, memang menaikan harga dan mencekik keuangan rakyat, namun hal itu dibutuhkan untuk menambah alokasi APBN untuk pembangunan infrastruktur negara. Seharusnya dalam kondisi normal masyarakat memiliki hak untuk menolak berada di situasi yang tak dia sukai dan membuat tidak nyaman, kecuali dalam beberapa situasi khusus, yang mana kekhususan situasi itu perlu dijelaskan oleh pemerintah. Sayangnya, hal ini bukanlah hal yang dilakukan pemerintah. Selama ini saya melihat tidak ada usaha yang signifikan untuk memberi penjelasan atas urgensi yang mendorong pemerintah untuk melakukan kebijakan ini. Menhan memang telah mengatakan bahwa bela negara merupakan kewajiban seluruh warga negara dan perlunya menananamkan rasa cinta tanah air. Namun hal itu belum menjawab mengapa masalah itu harus diselesaikan dengan program bela negara. Apakah saat ini militer Indonesia mengalami masalah? Apa sebenarnya tujuan yang diharapkan dari program ini? Bagaimana cara mereka menjustifikasi waktu dan biaya yang akan termakan dari program ini untuk seluruh rakyat Indonesia demi suatu hal abstrak tanpa urgensi jelas seperti nasionalisme? Dan lagi, sebetulnya nasionalisme itu apa pentingnya sih? Saya sebenarnya bingung, dengan tidak adanya kejelasan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, bagaimana bisa mereka mengharapkan dukungan rakyat atas kebijakan ini? Bukannya memberi penjelasan, yang pemerintah lakukan malah bersikap angkuh dengan mengatakan bahwa orang yang tak suka bela negara untuk angkat kaki dari negeri ini. Pak Menteri Pertahanan seakan-akan tidak tahu, atau mungkin memang tidak tahu, bahwa nasionalisme dapat memiliki berbagai wujud dan saya yakin mengikuti begitu saja program pemerintah dengan label ‘nasionalisme’ yang tidak jelas bukanlah hal yang patut kita kejar. Saya hanya bisa berharap pemerintah tidak naif dan berharap rakyat akan menerima saja ini hanya dengan “revolusi mental” atau penanaman nasionalisme sebagai pengemas kebijakan.

Penanaman nasionalisme yang ingin dicapai oleh Menhan juga saya rasa tak bisa tercapai. Oke, marilah kita asumsikan bahwa kita memang mengalami masalah kurangnya rasa nasionalisme dan masalah ini adalah masalah penting. Kalau begitu, maka harusnya yang perlu kita lakukan adalah mengubah pandangan orang-orang yang apatis terhadap nasionalisme ataupun menolak nilai-nilai dalam nasionalisme itu sendiri. Bagi saya ini hal yang membingungkan, bagaimana mungkin kita bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tidak disukai lalu berharap dia akan mencintai negara ini. Saya rasa pada skenario itu, di mana kita akan memaksa orang untuk melakukan hal yang tidak suka, kemungkinan mereka untuk malah membenci kebijakan ini dan negara yang melakukannya akan jauh lebih besar daripada kemungkinan mereka untuk malah menanam rasa nasionalisme dalam diri mereka. Pemaksaan adalah cara buruk untuk mengajar dan saya tak bisa melihat cara ini bekerja untuk mengubah pandangan orang-orang yang apatis atau anti terhadap nasionalisme.

Mungkin, pemerintah suatu saat akan membuktikan bahwa program bela negara memberikan manfaat signifikan bagi Indonesia. Suatu saat persepsi masyarakat mungkin akan berubah dan mendukung program ini untuk dilakukan. Tapi untuk sekarang, bagi saya program ini adalah program yang dilakukan terlalu terburu-buru tanpa usaha yang cukup untuk memberikan kejelasan akan tata cara dan tujuan program kepada masyarakat. Sebelum pemerintah memberikan justifikasi atas permasalahan yang telah saya bicarakan di sini, saya tidak setuju Program Bela Negara dilakukan di Indonesia.

Advertisements

5 thoughts on “Program Bela Negara, Untuk Apa?

    1. Ya, saya rasa itu akan lebih baik. Saya dengar ada banyak orang yang secara sukarela mendaftar untuk program ini, jadi program seperti ini bisa difokuskan ke orang-orang tersebut saja. Berikan peraturan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan memberikan cuti berbayar pada para pekerja yang ingin mengikuti bela negara, buat penjadwalan program yang disesuaikan dengan jadwal perkuliahan universitas-universitas sehingga mahasiswa yang berminat juga bisa ikut. Kalau memang program bela negara itu bermanfaat, secara organik program ini akan semakin luas menarik minat masyarakat. Pemerintah juga tak perlu melakukan pemaksaan segala pada masyarakat.

  1. bela negara bisa menjadi nilai ibadah.. dalam program bela negara yang dicanangkan pemerintah ini diharapkan jangan hanya demi menumbuhkan patriotisme saja, tapi harus ditumbuhkan dan dikuatkan ilmu keagamaanya juga supaya menjadi pondasi dan benteng yang kokoh dalam menghadapi tantangan kedepan. Tatakrama, sopan santun, akhlak mulia, budi pekerti dan nilai-nilai positif lainya saat ini mulai luntur di masyarakat indonesia.. bisa dilihat disemua media bagaimana perkataan dan perbuatan yang dulu disebut tidak pantas sekarang menjadi biasa.. bahkan itu menjadi tren gaul dan jadi simbol sosial. Anehnya ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan. bayangkan! apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika tidak ada upaya perbaikan dari sekarang.. anak cucu keturunan kita akan saling caci maki, tawuran, bunuh bunuhan. itu semua karena perkataan dan perbuatan yang tidak menjunjung nilai-nilai positif.
    bela negara harus bisa membangkitkan indonesia yang sopan santun,bertata krama, ber akhlak mulia, berbudi pekerti luhur.

  2. Reblogged this on Diskursus Indonesia and commented:

    Ini adalah post yang saya tulis di blog pribadi saya beberapa bulan yang lalu. Pandangan saya masih belum berubah dari dahulu sampai sekarang. Saya masih merasa bahwa program bela negara yang diwajibkan pada seluruh anggota masyarakat yang sudah dewasa sebagai hal yang tidak perlu dan tidak terjustifikasi. Silakan membaca bila berkenan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s